Menanti Sang Guru
Oleh: Eko Junianto, S.E

By Zainul Ihsan 08 Sep 2018, 14:15:02 WIB Tsaqofah
Menanti Sang Guru

Keterangan Gambar : Menanti Sang Guru


Saat berbicara bab Thalabul ‘Ilmi, biasanya kita langsung terpaku pada konsep murid datang untuk mencari guru. Beberapa dalil yang dihadirkan diantaranya : Kisah Nabi Musa mencari Khidhir, Kisah Imam Syafi’i mendatangi Imam Malik dan banyak kisah lain semacamnya. Para ulama biasanya mengumpulkan kisah – kisah itu dalam bab Rihlah fi Thalabul ‘ilmi.

Kami tidak sedang menafikan konsep itu. Hanya sekedar menambah wawasan, bahwa adakalanya seorang guru juga mencari murid. Sebagaimana jamak diketahui, bahwa suatu ilmu memiliki dua tuntutan kepada pemiliknya, yakni diamalkan dan disebarkan. Disebarkan bisa dipahami secara umum dengan cara disampaikan kepada khalayak luas, bisa pula dimaknai secara khusus dengan cara mewariskan kepada muridnya.

Permasalahannya, para guru biasanya memiliki sejumlah kriteria khusus tentang orang – orang tertentu yang akan diwariskan ilmu kepadanya. Mereka akan menilai kesiapan, kesungguhan, kelayakan, potensi, minat bakat hingga sifat – sifat khusus yang harus dimiliki oleh calon muridnya. Begitulah, pewarisan ilmu memang tidak sama konsepnya dengan penyampaian ilmu. Pewarisan ilmu berarti seorang guru akan mendidik muridnya agar bisa menjadi penerusnya dimasa depan, bukan sekedar jadi pengikutnya.

Orang yang mahir dalam bab ilmu tertentu (dari ilmu agama, ilmu memasak, ilmu bisnis hingga ilmu beladiri) akan sangat selektif dalam menurunkan ilmunya. Begitulah cara mereka menghargai dan memuliakan ilmunya. Orang – orang seperti itu, boleh jadi ada disekitar kita. Hanya saja, mereka menampakkan diri sebagai orang yang biasa saja.

Lihatlah teman – temanmu di facebook, perhatikan relasi dikontak whatsappmu. Bukankah diantara mereka banyak yang lebih hebat dari kita, ilmunya lebih tinggi dari kita, kapasitasnya jauh lebih mumpuni dibanding kita? Jika mereka belum tertarik untuk membagikan ilmunya kepada kita, mungkin karena menurut penilaiannya, kita memang dianggap belum layak.

Jadi, guru yang hebat tidak selalu harus dicari ditempat terpencil, jauh dan sulit dijangkau. Mungkin saja mereka malah sudah ada disekitar kita. Jika kita tidak mampu mendeteksi keberadaannya, itu semata karena kita tidak mampu menangkap sinyal yang telah dipancarkannya. Orang pintar itu tahu orang bodoh, tapi orang bodoh tidak tahu orang pintar. Tahu kenapa bisa begitu? Karena orang pintar pernah jadi orang bodoh sedangkan orang bodoh belum pernah jadi orang pintar.

Adakalanya, kita harus berkelana mencari seorang guru. Tapi adakalanya, seorang guru menemukan calon muridnya. Pantaskan saja diri kita untuk menerima sebuah ilmu. Kelak, mereka akan datang sendiri kepada kita. Silahkan dibuktikan.

 

Sumber: fb.com/eko.jun




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment